DomaiNesia

Solok Selatan Kembangkan Budidaya Maggot: Atasi Limbah, Perkuat Pangan

budidaya-maggot-banyak-manfaat,-solusi-atasi-sampah-rumah-tangga
Budidaya Maggot Banyak Manfaat, Solusi Atasi Sampah Rumah Tangga
www.domainesia.com

Solok Selatan – Upaya mewujudkan ketahanan pangan lokal di Kabupaten Solok Selatan menemukan angin segar melalui kolaborasi inovatif antara Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat. Keduanya mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan limbah organik yang menjanjikan.

Inisiatif budidaya maggot ini berpusat di Pondok Belajar Pangan Berkelanjutan WALHI Sumbar, yang terletak di Sukabaru Jorong Bukik Malintang Utara, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

Ketua KPA Winalsa Solok Selatan, Hendri Syarief, menjelaskan bahwa proyek ini lebih dari sekadar solusi teknis. Menurutnya, budidaya maggot adalah strategi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dengan dampak ekonomi yang signifikan. “Maggot ini punya banyak manfaat. Ia bisa mengurai sampah organik rumah tangga, menghasilkan pakan ternak berkualitas, dan tentu saja menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat desa,” kata Hendri saat ditemui di lokasi budidaya, Jumat (25/7/2025).

Lebih lanjut, Hendri menjelaskan bahwa maggot, larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF), memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik dan menghasilkan pakan ternak bernutrisi tinggi. “Maggot mampu mengurai sisa makanan seperti nasi, limbah sayuran, buah, hingga kotoran ternak. 1 kg maggot bisa menghabiskan 2-3 kg sampah organik per hari. Selain itu sisa sampah yang dilahap maggot menjadi pupuk organik (kasgot) yaitu, hasil dari kotoran maggot yang kaya nutrisi untuk tanaman,” jelasnya.

Hendri menambahkan, siklus hidup maggot dari telur hingga menetas membutuhkan waktu 4 hari. Larva atau maggot kemudian tumbuh selama 14-18 hari, lalu menjadi pupa yang berkembang selama 10-14 hari, sebelum akhirnya menjadi lalat dewasa yang hidup 5-8 hari hanya untuk kawin dan bertelur.

Saat ini, Hendri mengungkapkan, harga maggot di pasaran mencapai sekitar Rp 8.000 per kilogram. “Dipasaran maggot saat ini dijual per kilogram sekitar Rp 8.000. Namun, Kami masih menggunakan untuk pakan ternak dan tidak menjualnya. Ini cukup membantu kami yang biasanya membeli pakan jenis pelet dan pur,” ungkapnya.

Hendri menambahkan bahwa maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) mampu mengurai limbah organik secara efisien dan mengubahnya menjadi bahan bermanfaat bagi pertanian dan peternakan. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya pertanian ekologis dan pengelolaan sumber daya alam yang adil.

Pondok Belajar Pangan Berkelanjutan WALHI Sumbar tidak hanya menjadi lokasi budidaya maggot, tetapi juga pusat pembelajaran dan praktik langsung dengan konsep kolaborasi antara organisasi lingkungan dan petani lokal. Selain budidaya maggot, di lokasi ini juga dikembangkan sistem pertanian terpadu berbasis agroekologi.

“Tujuan akhirnya adalah kedaulatan pangan. Kita ingin masyarakat, khususnya petani, tidak hanya menjadi objek pembangunan tapi juga subjek yang mengelola dan menjaga tanahnya sendiri,” pungkas Hendri.