Padang — Forum Masyarakat Jasa Konstruksi Sumatera Barat bersama Pemerhati Seni Budaya Sumatera Barat menyampaikan penolakan tegas terhadap rencana pembongkaran dua jembatan kereta api di kawasan Lembah Anai, yakni BH 171 Km 69+297 dan BH 163 Km 67+524 pada jalur Kayu Tanam–Padang Panjang.
Penolakan tersebut disampaikan melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), serta Gubernur Sumatera Barat.
Ketua Forum Masyarakat Jasa Konstruksi Sumatera Barat, Ir. H. Afmi Yarsi, MT, IAI, menyampaikan bahwa rencana pembongkaran jembatan tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan teknis infrastruktur, melainkan menyangkut nilai sejarah, budaya, seni, dan identitas kawasan Lembah Anai.
“Jembatan Kereta Api Lembah Anai bukan hanya struktur besi dan beton, tetapi bagian dari lanskap budaya yang memiliki nilai sejarah dan simbolik tinggi. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari Warisan Dunia UNESCO Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto,” ujarnya.
Menurut Afmi Yarsi, jalur kereta api Sumatra’s Westkust yang dibangun pada rentang 1887–1891 merupakan penghubung penting antara tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Jalur ini juga dikenal sebagai salah satu jalur dengan teknologi rel bergigi yang langka di dunia, dirancang untuk menaklukkan medan terjal Lembah Anai.
Ia menambahkan, jembatan tersebut menjadi saksi sejarah perkembangan ekonomi Sumatera Barat serta mencerminkan kecerdasan teknik pada masanya. Selain itu, keberadaannya merekam jejak para pekerja dan menjadi bagian dari narasi besar perjalanan sejarah industri di wilayah tersebut.
Sementara itu, Pemerhati Seni Budaya Sumatera Barat, Drs. Nasbahry Couto, M.Sn, menilai Jembatan Lembah Anai juga memiliki nilai budaya tak benda yang kuat. Menurutnya, jembatan tersebut telah lama menjadi ikon visual Sumatera Barat dan hadir dalam berbagai medium seni, fotografi, film, hingga dokumentasi sejarah.
“Jembatan ini melahirkan memori kolektif masyarakat, termasuk nostalgia perjalanan kereta api Mak Itam, bunyi khas lokomotif, serta simbol perjalanan dan perantauan dalam budaya Minangkabau,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa secara estetika, perpaduan jembatan, air terjun, dan lanskap hutan tropis Lembah Anai menciptakan komposisi visual yang bernilai tinggi. Jika jembatan dibongkar, kawasan tersebut dikhawatirkan kehilangan orientasi visual dan daya tarik estetikanya.
Forum Masyarakat Jasa Konstruksi Sumbar menilai alasan kerusakan akibat banjir bandang dan longsor memang perlu ditangani secara serius, namun solusi yang diambil seharusnya tidak bersifat eliminatif. Mereka mendorong pendekatan konservasi adaptif dengan melibatkan ahli sejarah, budaya, teknik konservasi, seni, dan lingkungan.
Dalam surat terbukanya, forum tersebut menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni menghentikan rencana pembongkaran jembatan, melakukan kajian ulang lintas disiplin, serta menetapkan pendekatan konservasi sebagai solusi jangka panjang.
“Merawat jembatan ini berarti merawat ingatan kolektif bangsa. Ia bukan sekadar infrastruktur, tetapi jiwa lanskap dan identitas budaya Sumatera Barat,” tegas mereka.
Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh Ketua Forum Masyarakat Jasa Konstruksi Sumatera Barat, Ir. H. Afmi Yarsi, MT, IAI, serta Pemerhati Seni Budaya Sumatera Barat, Drs. Nasbahry Couto, M.Sn, dan tertanggal Padang, 26 Desember 2025. (***)








