Tanah Datar — Panitia Alek Batagak Panghulu Nagari Gurun menyatakan kesiapan untuk mensinergikan pelaksanaan alek panghulu dengan sektor pariwisata, sehingga kegiatan adat ini tidak hanya menjadi agenda internal kaum, tetapi juga menjadi daya tarik budaya bagi masyarakat luas.
Ketua Panitia, Irwan Datuak Paduko Boso, mengatakan alek batagak panghulu yang akan digelar pada 9–12 Juli 2026 merupakan momentum penting yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan keberlanjutan adat.
Menurutnya, baralek panghulu di Nagari Gurun memiliki siklus panjang, yakni sekitar 30 tahun atau 15 tahun, dengan catatan pelaksanaan pada 1933, 1966, 1999, dan 2011. Pelaksanaan pada 2026 menjadi kelanjutan dari siklus tersebut sekaligus peneguhan kembali nilai-nilai adat di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, alek panghulu bukan sekadar “patah tumbuah hilang baganti”, tetapi juga momentum menjaga keberlanjutan masyarakat hukum adat serta meluruskan kembali sejarah adat yang sempat mengalami penyimpangan pada masa kolonial melalui praktik panghulu basurek.
“Momentum ini kita jadikan untuk kembali merujuk kepada tambo, ranji tasurek, dan ranji alam sebagai dasar kebenaran adat,” ujar panitia.
Dalam proses pengangkatan panghulu, panitia menegaskan bahwa keputusan berasal dari supakaik kaum, bukan keputusan sepihak lembaga. Panitia bersama Kerapatan Adat Nagari (KAN) akan mengumumkan secara terbuka bakal calon panghulu yang akan dilewakan, sekaligus memberikan ruang bagi pihak yang ingin menyampaikan sanggahan.
“Karapatan adat bukan pengadilan untuk memutuskan siapa yang berhak, tetapi memfasilitasi agar gala nan lah talipek atau tabanam dapat kembali ditagakkan, mambangkik batang tarandam,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Kerapatan Adat Nagari Gurun, Dr. H. Febby Dt. Bangso, S.H., S.ST.Par., M.Par., QRGP, CFA, mengapresiasi langkah panitia dalam mempersiapkan alek panghulu secara matang. Alumni Lemhannas RI Angkatan LXIII itu menegaskan kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur KAN Nagari Gurun.
“Ini bagian dari program kerja KAN, yakni menyelesaikan Pernag Adat Salingka Nagari serta melaksanakan alek panghulu yang diusulkan oleh keluarga calon panghulu di Gurun ampek jorong,” ujarnya.
Ia juga menilai langkah panitia dalam mensinergikan alek panghulu dengan sektor pariwisata sebagai strategi yang tepat. Tahapan prosesi adat hingga rangkaian kegiatan budaya diyakini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kekayaan tradisi Minangkabau.
“Penetapan tanggal jauh-jauh hari adalah langkah bijak. Ini memberikan kepastian bagi masyarakat dan wisatawan untuk merencanakan kehadiran,” tambahnya.
KAN Nagari Gurun juga mengajak seluruh dunsanak perantau Gurun untuk pulang basamo dan meramaikan alek panghulu. Waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan libur sekolah dinilai menjadi momentum tepat untuk memperkenalkan anak dan cucu pada akar kekerabatan serta kehidupan adat di kampung halaman.
“Ini bukan hanya alek, tapi ruang memperkenalkan kembali hubungan mamak, amai, bako, dan seluruh dunsanak. Mari pulang kampung dan kunjungi Nagari Gurun,” tutupnya. (***)








