Jalur KA Kayu Tanam–Sawahlunto Akan Aktif Kembali, Andre Rosiade Sebut Target Oktober 2026

Padang – Pemerintah Presiden Prabowo Subianto menargetkan memulai reaktivasi jalur kereta api di Sumatera Barat pada akhir Oktober 2026. Program tersebut akan mengaktifkan kembali jalur kereta api lama yang menghubungkan Kayu Tanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Limbangan, Batu Tabal, Solok, Muaro Kalaban hingga Sawahlunto.

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra dari Sumatera Barat, Andre Rosiade, mengatakan reaktivasi jalur kereta api tersebut merupakan kabar baik bagi masyarakat Sumbar karena menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat meningkatkan konektivitas dan pembangunan daerah.

“Alhamdulillah, kabar baik untuk masyarakat Sumatera Barat. Pemerintah Presiden Prabowo akan memulai proses reaktivasi jalur kereta api Sumbar, dari Kayu Tanam menuju Padang Panjang, Solok hingga Sawahlunto. InsyaAllah ditargetkan mulai akhir Oktober 2026,” kata Andre.

Menurut Andre, program tersebut merupakan bentuk komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya di Sumatera Barat.

Reaktivasi jalur kereta api tersebut mendapat dukungan dari Kementerian BUMN dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Dalam rencana yang disiapkan pemerintah, total panjang jalur yang masuk program reaktivasi mencapai 248,5 kilometer.

Jalur tersebut terdiri dari ruas Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbangan sepanjang 162 kilometer, Padang Panjang–Batu Tabal 18 kilometer, Batu Tabal–Solok 34 kilometer, Solok–Muaro Kalaban 24 kilometer, serta Muaro Kalaban–Sawahlunto sepanjang 4 kilometer.

Andre yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI menyebut pemerintah menargetkan peluncuran aktivasi jalur tersebut pada 21–22 Oktober 2026. Ia berharap proses persiapan dapat berjalan sesuai rencana sehingga masyarakat kembali dapat memanfaatkan moda transportasi kereta api sebagai sarana mobilitas antardaerah.

“Kita ingin jalur kereta api kembali menjadi penghubung antardaerah, membuka akses mobilitas masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar,” ujarnya.

Selain mendukung mobilitas masyarakat, keberadaan kereta api juga diharapkan menjadi alternatif distribusi logistik yang lebih efisien. Moda transportasi berbasis rel dinilai mampu memperlancar pergerakan barang dan menekan biaya distribusi di sejumlah wilayah.

Andre menilai reaktivasi jalur kereta api tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang luas. Selain mendukung aktivitas perdagangan, proyek itu juga diyakini mampu mendorong sektor pariwisata di daerah yang dilalui jalur kereta api.

“Ini komitmen kami, komitmen Presiden Prabowo untuk terus mengawal agar konektivitas dan pembangunan di Sumatera Barat benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Dengan dimulainya reaktivasi jalur kereta api pada akhir Oktober 2026, masyarakat Sumatera Barat diharapkan kembali menikmati layanan transportasi yang menghubungkan sejumlah daerah strategis sekaligus menghidupkan kembali jalur bersejarah yang pernah menjadi tulang punggung konektivitas di Ranah Minang. (***)