Ragam  

Kota Tua Padang Berbenah, Khairul Jasmi Ungkap Jejak Sejarah dan Progres Revitalisasi

Padang – Pemerintah Kota Padang mulai merevitalisasi kawasan Kota Tua untuk menghidupkan kembali wajah bersejarah kota. Kawasan Pondok dan Muaro menjadi bagian penting dari penataan tersebut.

Revitalisasi ini menghidupkan kembali perhatian terhadap kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan di Sumatra’s Westkust atau Pantai Barat Sumatra. Namun, pelaksanaannya membutuhkan pengawasan agar proyek berjalan sesuai jadwal.

Wartawan senior sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi, mengulas sejarah dan perkembangan penataan tersebut melalui tulisan berjudul Klein Nederland te Padang: Kota Tua, Pondok dan Muaro. Tulisan itu terbit di Singgalang.co.id pada Jumat (16/10/2026).

Khairul mengungkapkan, gagasan revitalisasi Kota Tua Padang sudah muncul sejak dirinya masih menjadi reporter. Namun, rencana tersebut membutuhkan waktu panjang hingga mulai diwujudkan sekarang.

“Waktu saya masih reporter rencana revitalisasi kota tua sudah disampaikan. Tapi, Padang yang makin berumur rencana tak juga jadi kenyataan,” tulis Khairul.

Menurutnya, kawasan Pondok dan sekitarnya memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan Padang. Berbagai toko, gudang, kantor, dan usaha pernah memenuhi kawasan tersebut.

Catatan sejarah turut memperkuat gambaran itu. Surat kabar Sumatra-Courant edisi 15 September 1899 memuat iklan sejumlah usaha yang beroperasi di Pondok.

Salah satunya, Chatelin & Co., yang menawarkan obat berbahan kina untuk malaria dan demam. Sementara itu, C. Wattiez mempromosikan jasa penjilidan buku dengan menonjolkan kualitas pekerjaan dan harga terjangkau.

Khairul juga merujuk surat kabar Soenting Melajoe edisi 23 November 1912. Koran yang berkaitan dengan jurnalis perempuan pelopor, Ruhana Kudus, itu memberitakan perpindahan toko dan percetakan Orang Alam Minangkabau dari Pondok ke kawasan Pulau Air.

Berbagai catatan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi dan pers di kawasan itu telah berkembang sejak masa kolonial. Aktivitas perdagangan bahkan terhubung dengan kawasan pelabuhan dan jalur kereta api.

Peta Padang yang disusun Topographisch Bureau pada 1885 juga mencatat keberadaan gudang kopi, gudang garam, kantor lelang, dan kas negara. Peta tersebut diterbitkan pada semester pertama 1889.

Penataan Jalan dan Bangunan Bersejarah

Dalam peninjauannya, Khairul menggambarkan pekerjaan revitalisasi yang berlangsung di Jalan Klenteng dan Jalan Muaro. Kedua ruas tersebut masuk Paket 4 Jalan Kota Tua.

Pekerjaan itu mencakup penataan permukaan jalan menggunakan batu andesit. Kontraknya dijadwalkan berakhir pada 12 November 2026.

Saat mengamati lokasi, Khairul melihat pekerja mengupas aspal lama menggunakan ekskavator. Sejumlah bangunan tua masih berdiri di sepanjang jalan, dengan kondisi dinding mengelupas dan atap berkarat.

Ia juga menyoroti keberadaan kabel listrik dan telepon yang melintang di atas jalan. Rencana penempatan kabel bawah tanah menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki tampilan kawasan.

Namun, Khairul mengingatkan pemerintah agar menjaga kesinambungan pekerjaan. Ia tidak ingin penataan kawasan bersejarah berhenti karena keterbatasan anggaran.

“Jangan terbengkalai pula, Pak Wali,” tulisnya saat mengingatkan pentingnya keberlanjutan proyek.

Khairul mengusulkan nama Klein Nederland te Padang untuk kawasan tersebut. Istilah berbahasa Belanda itu menjadi gagasan penamaan yang merujuk pada karakter historis Kota Tua Padang.

Revitalisasi Menjangkau Pasar Raya dan Pantai Padang

Selain Kota Tua, Khairul mengulas sejumlah pekerjaan penataan di pusat Kota Padang. Pekerjaan tersebut mencakup kawasan Pasar Raya dan Pantai Padang.

Di Pasar Raya, pemerintah menata kembali kawasan air mancur dengan membangun taman dan kolam. Pekerjaan itu dijadwalkan selesai pada 28 Desember 2026.

Khairul mencatat progres pekerjaan tersebut mencapai 23,3 persen pada minggu ke-14. Capaian itu masih berada di bawah target rencana sebesar 30,6 persen.

Pekerjaan lain berlangsung di basement Blok 2 dan 3 Pasar Raya. Penataan meliputi perbaikan lantai, pengecatan, saluran air, serta fasilitas bagi pedagang.

Hingga minggu ke-13, progres pekerjaan basement mencapai 92,75 persen. Proyek tersebut dijadwalkan berakhir pada 30 Oktober 2026.

Sementara itu, penataan jalan di sekitar Pasar Raya mencakup Jalan Sandang Pangan, Hiligoo, Bundo Kanduang, Pasar Raya, dan Permindo. Khairul mencatat progresnya baru mencapai 11,22 persen pada minggu ke-13, dibandingkan target 20,54 persen.

Di kawasan Pantai Padang, pemerintah menata taman dan area parkir di Jalan Samudera. Pekerjaan tersebut meliputi pembentukan pelataran, jalur pejalan kaki, serta fasilitas pendukung kawasan pantai.

Progres taman dan parkir mencapai 61,07 persen pada minggu ke-12. Sementara itu, pekerjaan trotoar Jalan Samudera dari Simpang Hangtuah hingga Olo Ladang baru mencapai 8,02 persen pada minggu ke-13.

Berbagai pekerjaan tersebut memperlihatkan upaya pemerintah memperbaiki ruang publik sekaligus memperkuat daya tarik kawasan kota.

Khairul menilai penataan fisik perlu diikuti perawatan dan pengelolaan yang konsisten. Kawasan yang telah diperbaiki membutuhkan pengawasan agar tidak kembali semrawut.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga Padang sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, meski menghadapi berbagai tantangan perkotaan.

“Mantunlah Padang, kota yang dilamun-lamun ombak,” tulis Khairul menutup refleksinya tentang kota yang terus bertumbuh di tengah perubahan zaman. (***)