Padang – Bayangkan menjadi guru di sebuah desa terpencil di ujung barat daya Sumatera. Tanpa gaji. Tanpa fasilitas. Hanya keyakinan bahwa anak-anak di sana berhak meraih masa depan. Itulah yang dijalani Rabiatul Adawiyyah, seorang pengajar di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Pengabdiannya selama ini tak luput dari perhatian. Rabiatul baru saja dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan dalam JMSI Awards 2026. Namun, di balik penghargaan itu, tersimpan kisah perjuangan yang jarang diketahui banyak orang.
Rabiatul memilih mengabdikan diri di ujung pelosok Siberut Selatan tanpa menerima gaji sedikit pun. Di Desa Matotonan, yang terletak di barat daya Kepulauan Sumatera, akses, jarak, dan kondisi geografis yang ekstrem menjadi tantangan sehari-hari. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk memastikan anak-anak di sana tetap memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan.
Desa Matotonan dikenal sebagai wilayah dengan jumlah mualaf yang cukup banyak. Di tengah komunitas yang mayoritas baru memeluk Islam itulah, Rabiatul yang juga seorang mualaf, hadir memberikan dedikasi terbaiknya. Pengalamannya sebagai mualaf membuatnya lebih memahami perjalanan spiritual warga setempat, sehingga ia mampu memberikan pendekatan yang lebih personal dan menyentuh dalam mengajar.
Tak hanya mengajar pelajaran umum, Rabiatul juga menyisihkan waktunya untuk mengajar anak-anak mengaji sejak usia dini. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, ia dengan sabar membimbing generasi muda Matotonan mengenal huruf hijaiyah, membaca Al-Qur’an, dan menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak kecil. Baginya, pendidikan agama adalah fondasi utama yang harus ditanamkan sedini mungkin agar anak-anak memiliki karakter dan moral yang kuat di tengah tantangan zaman.
“Di saat sebagian orang mungkin mengukur pengabdian dari besarnya imbalan, Rabiatul justru memilih jalan berbeda. Ia hadir di tengah keterbatasan. Mengajar, mendampingi, mengajarkan mengaji, dan memberikan waktu serta tenaganya untuk anak-anak yang berada jauh dari pusat-pusat pendidikan,” demikian narasi dari panitia JMSI Awards.
Dr. Zaiyardam Zubir, yang pertama kali menerima masukan tentang perjuangan Rabiatul di Desa Matotonan, menyatakan kekagumannya.
“Mengajar di ujung pelosok Siberut Selatan tanpa digaji, ini tokoh inspiratif yang patut diberikan penghargaan. Beliau adalah seorang mualaf yang mengajar di kampung mualaf,” ujar Dr. Zaiyardam Zubir tegas.
Menurutnya, sosok seperti Rabiatul adalah pahlawan sesungguhnya yang bekerja dalam senyap demi masa depan generasi bangsa, baik dari segi intelektual maupun spiritual.
Setelah menerima penghargaan, Rabiatul menyampaikan rasa syukur dan tekadnya untuk terus mengabdi.
“Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih Bang Adam. Perjuangan ini belum selesai kawan-kawan guru..kami akan terus mengabdikan diri untuk anak-anak di Desa Matotonan untuk belajar mengaji dan memperdalam ilmu,” ujar Rabiatul dengan suara bergetar penuh haru.
Pengabdian Rabiatul menjadi pengingat bahwa kontribusi bagi bangsa tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar. Kadang, ia lahir dari ruang kelas sederhana, dari seorang guru yang tetap berdiri di depan kelas di tengah keterbatasan, serta dari seorang pendidik agama yang sabar membimbing anak-anak mengenal kitab suci di ujung negeri.
Ketua Tim Penilai Anugerah JMSI Award, Dr. Hary Efendi Iskandar, menempatkan nilai pengabdian dan dampak sosial sebagai bagian penting dalam melihat kelayakan penerima penghargaan. Penghargaan ini juga menjadi pesan bahwa daerah pelosok seperti Siberut Selatan tidak boleh menjadi daerah yang terlupakan.
“Pers yang kuat tidak hanya mampu memberitakan mereka yang bekerja untuk masyarakat, tetapi juga mampu memberikan penghargaan kepada mereka yang telah bekerja bagi masyarakat,” ujar Aguswanto, menekankan peran media dalam mengapresiasi kerja nyata di tengah gempuran konten digital.
Dalam JMSI Awards 2026, Rabiatul Adawiyyah menjadi salah satu dari lima penerima penghargaan dengan latar belakang berbeda, mulai dari pegiat lingkungan hingga penggerak UMKM, menunjukkan luasnya ruang pengabdian kepada masyarakat.
Di balik hiruk-piruk dunia digital, kisah Rabiatul Adawiyyah menjadi pengingat yang paling sunyi namun paling kuat: di ujung pelosok Siberut Selatan, seorang guru mualaf tetap berdiri di depan kelas. Tanpa gaji, tanpa sorotan, tetapi dengan keyakinan bahwa anak-anak Matotonan berhak memiliki masa depan—di dunia dan di akhirat. (***)






