Oleh :
DR. Febby Dt. Bangsa SST. Par, M. Par
Abstrak
Di berbagai titik geosite Ranah Minang, terlihat ironi yang mengemuka: lanskap purba berusia jutaan tahun justru dikalahkan oleh event seremonial yang hanya berlangsung beberapa jam. Geopark yang seharusnya menjadi ruang edukasi, konservasi, dan ekspresi kebudayaan berubah menjadi panggung lomba lari, musik, dan euforia sponsor. Tulisan ini menganalisis penyimpangan konsep geopark di Sumatera Barat melalui pendekatan akademik berbasis geoheritage, antropologi budaya, serta mandat UU Kepariwisataan yang baru.
Kajian ini menegaskan bahwa geopark membutuhkan integrasi geo-culture, gastronomi autentik, serta partisipasi masyarakat adat sebagai fondasi ekowisata yang berkelanjutan. Tanpa itu semua, geopark akan menjadi “warisan tua yang disulap jadi gelanggang modern”—menarik di foto, tetapi miskin makna.
1. Latar Pemikiran: Ketika Geopark Menjadi “Alek Tanpa Isi”
Dalam tradisi Minangkabau, pepatah “alam takambang jadi guru” telah lebih dahulu hidup dibanding usia republik. Setiap rekahan batu, setiap dinding bukit, dan setiap lekuk lembah adalah ayat-ayat alam yang mengajarkan identitas, migrasi, dan sejarah nenek moyang.
Namun, ayat-ayat itu kini tenggelam oleh suara MC, dentuman speaker, dan deru sepatu peserta lomba lari yang saling mendahului.
Dalam banyak kegiatan geopark, yang paling cepat bukanlah laju sedimentasi atau erosi, melainkan pembukaan pendaftaran race.
Pertanyaan mendasar muncul: Apakah geopark kita sedang bergerak menuju konservasi atau justru kompetisi?
2. Antara Geologi dan Jersey: Gegar Budaya dalam Pengelolaan Geopark
Geopark adalah interpretive landscape ruang tafsir yang menjembatani bumi, budaya, dan manusia. Namun realitas di lapangan justru sebaliknya: geosite berubah menjadi arena-event.
Jejak vulkanik berusia 25.000 tahun tertutup backdrop sponsor. Bukit purba dijadikan garis start lomba. Lembah geologi menjadi ruang selfie massal. Universitas mengajarkan geologi, ninik mamak mengajarkan adat, tambo mengajarkan memori kolektif.
Tetapi event geopark kini mengajarkan satu hal: cara mengambil foto terbaik setelah garis finish.
Satir Minang pun mengalir:
“Geopark kini alah jadi dunia balari, bukan dunia memahami diri.”
3. Geo-Culture: Harta Tak Ternilai yang Tak Pernah Masuk Rundown
Dalam banyak agenda geopark, geo-culture hanya muncul sebagai catatan kaki, bukan mandat utama. Tidak ada tambo yang dituturkan, tidak ada kaba yang dihidupkan, tidak ada silek yang dipertontonkan, dan tidak ada folklore yang ditafsirkan.
Padahal Ranah Minang mengenal: batu bersusun yang lahir dari legenda, puncak yang terkait kaba nenek moyang, danau yang diselimuti nilai adat, lembah yang menjadi jejak migrasi purba.
Namun event geopark berjalan dengan pola yangstrong registrasi — lari — foto — pulang. Seperti yang dikatakan orang tua-tua:
“Kambiang barubah jadi kuda pacu”—
yang bukan untuk dilombakan malah diperlombakan.
4. Gastronomi Autentik Minang: Hilang di Tanahnya Sendiri
Ini satir terbesar geopark di Minangkabau:
di tanah yang kulinernya diakui dunia, makanan nagari justru kalah dari snack box pabrikan. Saat event berlangsung, menu yang muncul adalah:
sandwich instan,
mie cup,
roti massal,
minuman energi industri.
Lalu di mana:
Randang yang lahir dari “geologi dapur”, lamang tapai yang berkelindan dengan tradisi vulkanik, pangek sasau, samba lado tanak, palai bada, atau gulai itiak lado mudo?
Jawaban singkatnya:
Mereka tidak masuk kepanitiaan, maka mereka tidak masuk menu. “Ketika gastronomi autentik digantikan roti tawar, itu bukan hanya masalah logistik—itu pertanda rapuhnya identitas.”
5. Masyarakat Nagari: Tuan Rumah yang Diposisikan sebagai Penonton
Geopark yang benar menjadikan masyarakat sebagai aktor utama. Namun di Ranah Minang, masyarakat nagari lebih sering menjadi penonton di rumah sendiri.
Event datang seperti tamu asing:
masuk cepat,
ribut sesaat,
pulang tanpa meninggalkan nilai selain sampah plastik.
Partisipasi masyarakat hanya bersifat kosmetik. Narasi, arah, dan keputusan ditentukan oleh pihak luar. Inilah yang dalam kajian budaya disebut sebagai seremonial colonialism atau dalam bahasa Minang:
“Urang awak punyo tanah, orang lain nan mancari makan.”
6. Analisis Berbasis UU Kepariwisataan yang Baru
UU Kepariwisataan yang baru menegaskan prinsip-prinsip: penguatan budaya lokal, pelibatan masyarakat, gastronomi sebagai identitas, keberlanjutan jangka panjang, kepemilikan komunitas (community-based toustrong Anehnya, pola geopark saat ini justru melanggar semua prinsip tersebut secara sistematis.
7. Rekomendasi: Mengembalikan Martabat Geopark Minang
1. Menjadikan Geo-Culture sebagai Jantung Geopark
Geosite harus menampilkan narasi tambo, kaba, silek, folklore, dan adat sebagai interpretasi resmi.
2. Menetapkan Gastronomi Minang sebagai Identitas Geopark
Menu event wajib menampilkan kuliner nagari. Produk industri tidak boleh mendominasi.
3. Mengembalikan Peran Utama Masyarakat Nagari, Nagari bukan “penyedia lokasi”, tetapi pemilik dan pengendali arah pengembangan.
4. Mengubah Pola dari Event-Oriented menjadi Knowledge-Oriented
Geopark adalah ruang belajar, bukan gelanggang kompetisi.
5. Menjadikan UU Kepariwisataan Baru sebagai Kompas Utama
Setiap keputusan harus tunduk pada prinsip budaya, keberlanjutan, dan rasa lokal.
Penutup:
Saatnya Mengembalikan Rasa Geopark bukan sekadar gelanggang. Ia adalah naskah alam, manuskrip purba, kitab terbuka yang harus dibaca—bukan dilewati sambil berlari.
Jika geopark terus dipaksa menjadi arena lomba, generasi mendatang hanya akan mewarisi tanah yang indah tetapi tanpa cerita, event yang meriah tetapi tanpa makna. (***)







